Minggu, 14 Maret 2010

Tip dan Solusi Menentukan Tujuan Hidup!!

Tujuan kehidupan manusia dapat dipilah dalam dua bagian :

1. Tujuan besar, umum, dan permanen. Tujuan Strategis

2. Tujuan kecil, parsial, dan periodek. Tujuan taktis.

Tujuan kecil harus digunakan untuk tujuan besar. Tujuan besar dan teragung yang mungkin bisa diupayakan manusia dalam kehidupan ialah berusaha mendapatkan keridhaan Allah, Tuhan semesta alam, dengan sarana-sarana yang diizinkan Allah.

Tip dan solusi ini saya ambil dari sebuah pemikiran yang membantu manusia menentukan tujuan dalam sisi-sisi kehidupan mereka yang beragam. Pemikiran-pemikiran sebagai berikut:

1. Janganlah membiasakan diri mengerjakan sesuatu tanpa tujuan. Diri kita ibarat anak kecil. Bila terbiasa dengan sesuatu maka ia tidak akan meninggalkannya. Bisa saja sebagian orang bertanya, apakah seluruh kehidupan harus dijalani dengan serius. Jawabannya tidak, sebab jiwa pasti tidak sanggup. Namun rehatlah pada waktu yang tepat dengan cara-cara yang sesuai. Dengan demikian, istirahat anda mempunyai tujuan dan tetap berada dalam bingkainya.

2. Sebelum menentukan tujuan, anda harus mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki atau diperkirakan ada. Setelah itu, barulah tujuan ditentukan berdasarkan kemampuan tersebut. Jadi, tujuan hidup tidak boleh berupa khalayan semata, dalam arti kemampuan yang disiapkan sangat pas-pasan. Taruhlah anda ingin melakukan bisnis. Anda harus realistis melihat berapa modal yang anda bisa siapkan untuk bisnis tersebut, baru menentukan proyek bisnis berdasarkan besarnya modal.

3. Tujuan yang dicapai harus sepadan dengan waktu yang anda tentukan untuk merealisirnya. Ketahuilah bahwa “pembunuh” tujuan mulia yang paling berbahaya adalah ketiadaan waktu yang cukup untuk merealisirnya. Sama seperti orang yang ingin mengantongi ijazah dokter spesialis hanya dalam tempo satu tahun setelah lulus dari SMU.

4. Tujuan yang ingin direalisir hendaknya tujuan yang syar’I (legal), sebab tujuan sangat banyak macamnya dan hidup tidak menjadi sempit, kecuali bagi orang-orang yang lemah. Buktinya, Nabi Yunus a.s. tidak kehilangan aktivitas ketika terkurung di perut ikan, sebab beliau termasuk orang yang bertasbih kepada Allah.

5. Tujuan harus konkrit (ditentukan), jelas, dan spesifik. Tujuan yang tidak konkrit dan tidak jelas membuat orang tak mampu meraih apa yang ia inginkan atau tidak mengetahui apa sesungguhnya yang ia inginkan. Contohnya, seorang mahasiswa ingin lulus dari perguruan tinggi, tetapi ia tidak menentukan spesialisasi apa yang diinginkan, perguruan tinggi mana yang dikehendaki, dan kapan hal itu dilaksanakan. Karena tujuannya tidak spesifik, ia mengalami kesulitan merealisasikannya.

6. Diantara syarat terealisirnya tujuan ialah membuat rencana untuk mencapainya. Mungkin saja anda memiliki tujuan yang besar, memungkinkan untuk dicapai, legal, dan konkrit. Namun, bila jalan untuk meraihnya tidak dijelaskan maka akan tinggal sebagai gagasan dan cita-cita belaka, jadi realisasi tujuan harus disertai perencanaan.

Inilah persimpangan jalan antara orang-orang yang serius dengan orang-orang yang santai dalam menyikapi kehidupan. Orang-orang yang bersemangat tinggi merumuskan tujuan yang amat konkrit. Selanjutnya ia merumuskan dan menyiapkan mekanisme realisasinya. Adapun oran-orang yang suka menunda-nunda dan menganggur, betapa banyaknya tujuan utopis mereka, tetapi mereka tidak mengambil satu langkah pun untuk mewujudkannya!

7. Setelah menyelesaikan perencanaan, menyiapkan kebutuhan, dan menentukan waktu realisasi, langkah selanjutnya adalah realisasi perencanaan untuk mencapai tujuan. Di sini seseorang perlu menentukan pihak yang akan merealisir, pihak yang melakukan supervise, dan mencatat setiap tahap kemajuan.

Ketika seseorang melangkah mendekati tujuannya, ia akan menemui banyak kendala. Terkadang hal itu memaksanya mengkaji ulang sebagian rencana, lalu memikirkan tujuan-tujuan periodic yang mengantarkannya kepada tujuan utama. Ia harus berkosentrasi untuk merealisir tujuan dengan penuh keyakinan, bertekad bulat untuk mencapai tujuan tanpa ragu, dan berkeyakinan bahwa dirinyalah satu-satunya pihak yang harus bertanggung jawab atas terwujudnya tujuan tersebut, dan bukan orang lain.

8. Tujuan yang ingin diwujudkan harus dipandang sebagai kebutuhan sehingga lebih diutamakan untuk dikerjakan daripada aktivitas lain. Bisa saja seseorang memiliki tujuan yang sudah lengkap syarat-syaratnya, tetapi ia tidak merasa membutuhkannya. Perhatiannya justru tersedot kepada tujuan lain yang dianggapnya lebih mendesak. Akibatnya, ia sibuk menyiapkan tempat istirahat untuk seminggu pada liburan semester, padahal rumah untuk tempat tinggal selama setahun belum dibangun.

Ketika menentukan tujuan dan berusaha mewujudkannya, seseorang harus menjadikannya sebagai obsesi dan menghendaki peningkatan. Kehidupan itu terbatas dan kesempatan tidak datang berulang kali. Jadi, barangsiapa menghabiskan waktu dan kehidupannya untuk hal-hal yang remeh, ia bagaikan hidup di kaki gunung urusan-urusan sepele itu dan tidak sanggup mendaki sampai ke puncak tujuan.

Ini seperti seseorang yang memiliki kecerdasan tinggi, lulus SMU dengan nilai memuaskan, dan menyimpan berbagai potensi untuk meneruskan studinya sampai mencapai gelar doctor. Namun, ia merasa cukup dengan apa yang telah diwujudkannya di SMU dan mencari pekerjaan yang terbatas. Orang seperti ini bisa dibilang mengubah hidup-hidup seluruh potensinya karena tujuannya kelewat sederhana dan cita-citanya terbatas.

9. Jika tujuan utama sudah ditentukan dan seluruh syarat pendahuluannya tersedia, anda wajib membagi tujuan utama itu ke dalam tujuan-tujuan parsial, periodic dan kecil. Setiap kali berhasil merealisir satu dari tujuan-tujuan tersebut, berarti anda lebih dekat kepada penyempurnaan tujuan utama anda. Terealisirnya semua tujuan periodik dan kecil merupakan pertanda bahwa tujuan utama anda sudah terwujud dengan sempurna.

10. Salah satu kiat sukses dalam mencapai tujuan adalah merahasiakan tujuan dan usaha realisasinya dari orang-orang yang tak perlu tahu. Ini sejalan dengan hadis, “gunakan kerahasiaan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain.” Barang siapa tidak mampu menjaga rahasia dirinya, jangan salahkan orang lain jika orang itu menyebarkannya. Berapa banyak tujuan menjadi hilang sia-sial atau gagal direalisir karena kerahasiaannya dibeberkan sendiri oleh si pemilik tujuan.

semoga bisa membantu dan bermanfaat,,,

Kamis, 21 Januari 2010

Ok, Sebelumnya ane sangat sarankan putar backsound dibawah
untuk mengiringi membaca trit ane



*Note : Maaf agak panjang, tapi coba baca pelan2 dan semoga tidak ada yang terlewatkan.
Bagi yang muslim silakan ucapkan Bismillah dan Istifghfar 3x dulu gan (Serius ne)

-Trit Begin-

Pada hari perhitungan (hisab) nanti, kalau sholat kita kurang sempurna maka para Malaikat mencari apakah ada amalan sholat nafil (sunnat) untuk menyempurnakannya. Apabila zakat kita kurang tertib, maka dicari apakah sedekah kita mampu menutupi kekurangan tsb. Apabila puasa ramadhan kita ada yang bolong, maka dicari apakah puasa sunnat kita bisa ditambalkan.


Gimana Kalau Iman yang Tidak Sempurna

Tapi Bagaimana kalau iman kita tidak sempurna ?? Bagaimana kalau kita ternyata tidak hanya menyembah kepada Allah, tetapi bercampur terhadap menyembah harta, pangkat, dan jabatan.

Bagaimana kalau ternyata ketaatan kita kepada Allah, kalah dengan ketaatan kita terhadap sistem yang diberlakukan bos di kantor, atau sistem yang diberlakukan pemerintah.


Udin pun menjawab

"Diwajibkan makai helm standar oleh polisi, si udin taat bener, sampai2 kalo naik motor gak afdhol kalo gak pake helm. Tapi kewajiban sholat malah disepelekan."

Bagaimana kalau ternyata kita minta perlindungan ternyata tidak hanya kepada Allah, tetapi diselingi dengan permohonan dan perlindungan kepada benda2 yang kita anggap keramat, atau kita takut kepada makhluk ciptaan melebihi ketakutan kita kepada Allah yang menciptakannya.

Bagaimana kalau ternyata tujuan hidup kita bukan mendapatkan ridho Allah, tetapi hanya menumpuk ilmu, memperbanyak relasi bisnis, dan mencari harta sebanyak2nya serta mencintainya melebihi kecintaan kita kepada Allah.


Iman Yang Keliru

Bahkan tanpa sadar kita yakin bahwa yang menghidupi keluarga kita adalah gaji dari perusahaan. Kita terlanjur yakin bahwa yang menyembuhkan penyakit adalah obat + dokter. Kita meyakini bahwa yang memberi kenyang adalah makanan. (Padahal yang memberi kesehatan semata2 hanya Allah, dokter +obat hanya sebagai perantara saja yang telah disyariatkan oleh Allah).


Trus Gimana?

Duuh..... trus apa yang bisa kita persembahkan untuk menutupi kekurangan kita dalam Iman kepada Allah. Jawabannya TIDAK ADA !!. Setitik saja ada noda kesyirikan, atau perlindungan, atau tempat meminta, tempat berharap, sesuatu yang sangat dicintai kepada selain ALLAH maka Iman dan amal2 kita akan tertolak.

Allah maha pencemburu, melebihi kecemburuan 70 orang istri terhadap suaminya.


Fenomena Yang Terjadi Pada Kita

Fenomena yang banyak terjadi adalah :
1. Taat sama aturan pemerintah, tapi tidak taat sama Syariat Allah
2. Takut akan sanksi dari berwenang, tapi tidak takut sama nerakanya Allah
3. Cepat menyambangi panggilan bos, tapi lambat dalam menyambangi panggilan Allah lewat muadzinnya
4. Ketika Adzan dikumandangkan, menunda sholat berjamaah karena takut meninggalkan meeting

5. Menunda sholat, karena gak enak ijin sama dosen
6. Yakin bahwa yang menafkahi kita adalah gaji, bukan rejeki dari Allah (Sehingga rela bekerja siang malam dan melupakan Allah, takut kehilangan pekerjaan, lebih takut ama bos, bahkan mengerjakan yang dilarang oleh Allah)
7. Yakin bahwa yang memberi kenyang adalah makanan yang kita makan
8. Ketika sakit, maka yang di ingat pertama kali adalah "apa obatnya?", tetapi melupakan
siapa yang memberi penyakit dan siapa yang berhak menghilangkan itu penyakit.

9. Takut dibata sama kaskuser tapi tidak takut dibata ALLAH karena gak sholat dan keasyikan ngaskus
10. Takut disunnat sama admin, tapi tidak takut keberkahan rejeki disunnat sama Allah.
11. Berlomba2 posting untuk dapat ISO, tapi kurang semangat berlomba2 ngepost amal buat ngedapatin ridho ALLah
12. Dan banyak lagi fenomena Iman yang cacad dihadapan Allah


ah.... terlalu banyak kesalahan yang tidak kita sadari ya. Gak sepenuhnya salah kita juga seh, karena budaya dan pola hidup sekarang dominan mengarah ke sekuler -memisahkan antara kehidupan sehari2 dengan agama, agama hanya untuk ritual-. Tapi kita sebagai makhluk Allah nantinya harus mempertanggung jawabkan segala sesuatu yang diperbuat hati dan diri kita.


Harapan

Semoga Allah memberikan kita hidayah dan petunjuk agar bisa menyempurnakan iman. Dan ketika Malaikat mencabut nyawa, kita pun dapat tersenyum, menjadi kebanggaan orang tua, keluarga serta dibangga2kan Allah di depan para malaikat.

Obat Tidak bisa menyembuhkan, yang menyembuhkan adalah Allah.
Obat bisa menyembuhkan karena berhajat kepada Allah
Tapi Allah bisa menyembuhkan penyakit, tanpa berhajat kepada Obat.
Allah juga bisa menyembuhkan penyakit dengan obat, melalui sunnatullah (aturan) yang dibuatnya

Contoh :
- Beberapa orang minum obat yang dianjurkan, tapi tetap gak sembuh2 karena belum diijinkan Allah
- Beberapa orang menyembuhkan penyakit hanya dengan berdoa kepada Allah.

Makanan Tidak bisa memberi kenyang, yang memberi kenyang adalah Allah.
Makanan memberi kenyang karena berhajat kepada Allah
Tapi Allah bisa memberi kenyang, tanpa berhajat kepada Makanan.
Allah juga bisa memberi kenyang melalui makanan, melalui sunnatullah (aturan) yang dibuatnya

Ada benarnya semata2 dari Allah, ada yang kurang karena kelemahan ane sebagai manusia.
* Ane bukan ustadz, alumni ESQ, anak HT, dll. Ane hanya kaskuser biasa yang banyak dosa juga gan.
* Sumber : Itikaf 3 hari di masjid, Bayan subuh, renungan dan Akal yang dititipkan Allah Kepada saya.
* Insya Allah gak repost tulisan, karena diketik sendiri.
* Tapi kalo repost pemikiran kayaknya IYA, karena sumbernya sama, yaitu dari Allah dan RasulNya
* Gak ada niat menggurui, hanya niat mengingatkan dan berbagi.



Astaghfirullah....... Astaghfirullaahal adhim...

SEMOGA DIPAHAMKAN OLEH ALLAH...